Pernahkah berpikir
bagaimana mekanisme koping pasangan?
Pasangan adalah orang
spesial, yang dicintai, merupakan sesuatu yang penting dan ada rasa tidak
ikhlas untuk kehilangan orang tersebut. Sehari atau bahkan sejam tanpa kabar
membuat panik dan tidak fokus mengerjakan sesuatu. Sebenarnya itu tergantung
pada seberapa arti pasangan tersebut dalam hidup seseorang. Tidak lebai. Ada
yang berpendapat bahwa pasangan yang baik adalah walaupun ia sibuk entah itu
bekerja, sedang meeting, kerja lembur, banyak proyek, banyak urusan tetapi ia masih memberikan kabar kepada
pasangannya karena ia tidak mau pasangannya mengkhawatirkannya. Itu merupakan
sesuatu yang baik, perlu dicontoh untuk yang mempunyai pandangan yang sama.
Cinta itu unik. Butuh
kejujuran. Butuh pengertian. Butuh rasa sayang. Butuh kepercayaan. Butuh energi
yang cukup untuk melewati masalah masalah yang ada. Dan tentunya konsisten
dalam hubungan itu perlu sangat.
Guys dalam relation itu
pasti ada masalah. Karena hakikatnya manusia itu hidup diharapkan bisa
beradaptasi dengan aspek biologis, psikologis, sosiologis dan spiritual. Bukan
tidak mungkin masalah itu berasal dari aspek-aspek tersebut. Dan pasangan itu
masuk aspek sosial. J
Respon seseorang
terhadap masalah itu berbeda-beda. Pengalaman itu mempengaruhi respon yang
berbeda pada setiap individu, apabila individu pernah mengalami masalah yang
sama maka individu tersebut sudah mempunyai mekanisme pemecahan masalah dengan
cepat tepat karena dulu pernah mengalaminya. Sehingga memudahkan dalam
pengambilan keputusan. Berbeda dengan individu yang perdana menghadapi masalah,
tentunya individu tersebut akan lama dalam mengambil keputusan dan bisa jadi
mencari dukungan sosial untuk mendapatkan solusi yang tepat.
Tahap perkembangan juga
ikut andil mempengaruhi respon terhadap masalah. Misal anak-anak usia 1-3 tahun
yang tahap perkembangannya adalah Otonomi, jika tahap perkembangan tersebut
tidak terpenuhi maka anak tersebut akan
cenderung bersifat Shame and Doubt (Malu dan Ragu-ragu). Ketika anak tersebut
berusia dewasa awal (20-pertengahan 40 tahun) tetapi tahap perkembangannya
masih belum terpenuhi maka bukan tidak mungkin kegagalan tahap perkembangan
berpengaruh besar pada kepribadian anak tersebut. Sudah dewasa namun malu
mengungkapkan keinginan dan selalu ragu ragu dalam melaksanakan planning
hidupnya, rahu dalam menentukan koping yang tepat untuk dirinya sendiri. Jadi
intinya adalah kepribadian seseorang itu tergantung pada tahap perkembangan.
Jika tahap perkembangannya terpenuhi dengan baik maka kepribadiannya juga baik,
mampu menyeimbangkan id, ego dan superego.
Semua orang punya
masalah. Semua pasangan punya masalah. Lalu kenapa ada yang bisa menyelesaikan
dan kenapa ada yang tidak bisa menyelesaikan bahkan sampai menjadikan frustasi
dan depresi diri? Berhasil atau tidaknya menghadapi masalah itu tergantung dari
interpretasi atau cara pandang seseorang terhadap masalah sehingga bisa menentukan mekanisme koping yang tepat.
Ada yang menganggap tidak bertemu pasangan selama seminggu itu adalah masalah
besar, dan sebaliknya ada yang menganggap tidak bertemu selama seminggu itu
bukan masalah, yang penting bisa jaga hati.
Mekanisme koping adalah
bagaimana cara seseorang bisa memecahkan masalah dan menghadapi stres yang
sedang aktual (kondisi tidak dalam zona aman).
Ketika ada masalah
dengan pasangan, yang pertama adalah bina hubungan saling percaya tujuannya
untuk meningkatkan rasa kepercayaan pasangan sehingga pasangan tersebut akan
mau mengutarakan apa yang menjadi problem. Jika sudah mengutarakan tugas
individu tersebut adalah mendengarkan dengan baik dan seksama apa yang menjadi
keluhan utamanya. Ingat menjadi pendengar yang pasif, jangan memotong
pembicaraan pasangan yang sedang mengungkapkan kekesalannya. Tanyakan pada
pasangan tentang harapan tentang hubungan yang telah dijalani. Berikan dukungan
dan reinforcement positif atas keterbukaan pasangan. Kemudian secara bertahap
buat kesimpulan. Analisa koping yang telah dilakukan pasangan. Lalu tingkatkan
komunikasi yang asertif dengan pasangan sehingga dapat menentukan koping yang
baik. Misal menyarankan untuk break dari masalah, mencari dukungan sosial dan
berdo’a. Lakukan intervensi step by step dan terus pantau perkembangan pola
pikir pasangan, apakah mengikuti instruksi atau tidak dan intropeksi diri
apakah tindakan yang dilakukan berhasil atau tidak, jika tidak lakukan
alternatif yang lain. Jangan panik. Cukup evaluasi tindakan dan koreksi yang
kurang tepat.
Kadang manusia itu bisa
menyelesaikan masalah yang besar namun untuk masalah yang kecil malah tidak
bisa menyelesaikan.
Manusia dituntut untuk
sanggup menghadapi masalah. Ada semboyan “Sini
Masalah Aku Selesaikan”