Minggu, 20 September 2015

Mekanisme Koping

Pernahkah berpikir bagaimana mekanisme koping pasangan?

        Pasangan adalah orang spesial, yang dicintai, merupakan sesuatu yang penting dan ada rasa tidak ikhlas untuk kehilangan orang tersebut. Sehari atau bahkan sejam tanpa kabar membuat panik dan tidak fokus mengerjakan sesuatu. Sebenarnya itu tergantung pada seberapa arti pasangan tersebut dalam hidup seseorang. Tidak lebai. Ada yang berpendapat bahwa pasangan yang baik adalah walaupun ia sibuk entah itu bekerja, sedang meeting, kerja lembur, banyak proyek, banyak urusan  tetapi ia masih memberikan kabar kepada pasangannya karena ia tidak mau pasangannya mengkhawatirkannya. Itu merupakan sesuatu yang baik, perlu dicontoh untuk yang mempunyai pandangan yang sama.

Cinta itu unik. Butuh kejujuran. Butuh pengertian. Butuh rasa sayang. Butuh kepercayaan. Butuh energi yang cukup untuk melewati masalah masalah yang ada. Dan tentunya konsisten dalam hubungan itu perlu sangat.

Guys dalam relation itu pasti ada masalah. Karena hakikatnya manusia itu hidup diharapkan bisa beradaptasi dengan aspek biologis, psikologis, sosiologis dan spiritual. Bukan tidak mungkin masalah itu berasal dari aspek-aspek tersebut. Dan pasangan itu masuk aspek sosial. J

         Respon seseorang terhadap masalah itu berbeda-beda. Pengalaman itu mempengaruhi respon yang berbeda pada setiap individu, apabila individu pernah mengalami masalah yang sama maka individu tersebut sudah mempunyai mekanisme pemecahan masalah dengan cepat tepat karena dulu pernah mengalaminya. Sehingga memudahkan dalam pengambilan keputusan. Berbeda dengan individu yang perdana menghadapi masalah, tentunya individu tersebut akan lama dalam mengambil keputusan dan bisa jadi mencari dukungan sosial untuk mendapatkan solusi yang tepat.

          Tahap perkembangan juga ikut andil mempengaruhi respon terhadap masalah. Misal anak-anak usia 1-3 tahun yang tahap perkembangannya adalah Otonomi, jika tahap perkembangan tersebut tidak terpenuhi  maka anak tersebut akan cenderung bersifat Shame and Doubt (Malu dan Ragu-ragu). Ketika anak tersebut berusia dewasa awal (20-pertengahan 40 tahun) tetapi tahap perkembangannya masih belum terpenuhi maka bukan tidak mungkin kegagalan tahap perkembangan berpengaruh besar pada kepribadian anak tersebut. Sudah dewasa namun malu mengungkapkan keinginan dan selalu ragu ragu dalam melaksanakan planning hidupnya, rahu dalam menentukan koping yang tepat untuk dirinya sendiri. Jadi intinya adalah kepribadian seseorang itu tergantung pada tahap perkembangan. Jika tahap perkembangannya terpenuhi dengan baik maka kepribadiannya juga baik, mampu menyeimbangkan id, ego dan superego.

      Semua orang punya masalah. Semua pasangan punya masalah. Lalu kenapa ada yang bisa menyelesaikan dan kenapa ada yang tidak bisa menyelesaikan bahkan sampai menjadikan frustasi dan depresi diri? Berhasil atau tidaknya menghadapi masalah itu tergantung dari interpretasi atau cara pandang seseorang terhadap  masalah sehingga  bisa menentukan mekanisme koping yang tepat. Ada yang menganggap tidak bertemu pasangan selama seminggu itu adalah masalah besar, dan sebaliknya ada yang menganggap tidak bertemu selama seminggu itu bukan masalah, yang penting bisa jaga hati.

       Mekanisme koping adalah bagaimana cara seseorang bisa memecahkan masalah dan menghadapi stres yang sedang aktual (kondisi tidak dalam zona aman).

    Ketika ada masalah dengan pasangan, yang pertama adalah bina hubungan saling percaya tujuannya untuk meningkatkan rasa kepercayaan pasangan sehingga pasangan tersebut akan mau mengutarakan apa yang menjadi problem. Jika sudah mengutarakan tugas individu tersebut adalah mendengarkan dengan baik dan seksama apa yang menjadi keluhan utamanya. Ingat menjadi pendengar yang pasif, jangan memotong pembicaraan pasangan yang sedang mengungkapkan kekesalannya. Tanyakan pada pasangan tentang harapan tentang hubungan yang telah dijalani. Berikan dukungan dan reinforcement positif atas keterbukaan pasangan. Kemudian secara bertahap buat kesimpulan. Analisa koping yang telah dilakukan pasangan. Lalu tingkatkan komunikasi yang asertif dengan pasangan sehingga dapat menentukan koping yang baik. Misal menyarankan untuk break dari masalah, mencari dukungan sosial dan berdo’a. Lakukan intervensi step by step dan terus pantau perkembangan pola pikir pasangan, apakah mengikuti instruksi atau tidak dan intropeksi diri apakah tindakan yang dilakukan berhasil atau tidak, jika tidak lakukan alternatif yang lain. Jangan panik. Cukup evaluasi tindakan dan koreksi yang kurang tepat.

       Kadang manusia itu bisa menyelesaikan masalah yang besar namun untuk masalah yang kecil malah tidak bisa menyelesaikan.

Manusia dituntut untuk sanggup menghadapi masalah. Ada semboyan “Sini Masalah Aku Selesaikan